PDIP, Hanura dan PKB Jajaki Koalisi

Kupang – Pengamat politik Mikhael Bataona mengatakan PDIP, Hanura dan PKB tengah menjajaki koalisi untuk mengusung satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada Nusa Tenggara Timur karena sama-sama memiliki kursi signifikan di DPRD setempat.

“PDIP masih punya cara dan sumber daya untuk menyusun ulang peta koalisi. Minimal masih bisa mengamankan satu dua partai yang tersisa diantaranya Hanura dan PKB,” katanya di Kupang, Minggu.

Dosen Fisipol Unwira Kupang itu mengatakan hal tersebut menanggapi konstalasi kontestasi Pilkada NTT yang telah memasuki jadwal dan tahapan menuju pendaftaran, namun baru dua parpol yang telah menyatakan telah berpasangan.

Sementara partai pemilik kursi di DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan partai berkuasa saat ini (PDIP) sekalipun belum menyatakan siapa calon gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun mendatang.

Jadi, menurut dia, berbagai kemungkinan masih bisa mungkin terjadi.

Dalam analisisnya, secara simbolik kedekatan PDIP dengan Hanura dan PKB sudah nyata di NTT. Dari beberapa pilkada di NTT, PKB dan Hanura lebih sering berkoalisi dengan PDIP.

Sikap PDIP yang masih diam, belum memberikan arah koalisi maupun calonnya, harus dibaca terbalik. Artinya, sebagai partai pemenang pemilu, PDIP punya sumber daya untuk membentuk koalisi dan memunculkan kombinasi koalisi maupun pasangan calon yang mengejutkan di “injury time”.

“Sebagai partai pemenang, menurut saya PDIP masih punya cara dan sumber daya untuk menyusun ulang peta koalisi. Minimal masih bisa mengamankan satu dua partai yang tersisa. Jadi, semua kemungkinan masih bisa terjadi,” katanya.

Dalam analisisnya, secara simbolik kedekatan PDIP dengan Hanura dan PKB sudah nyata di NTT. Dari beberapa pilkada di NTT, PKB dan Hanura lebih sering berkoalisi dengan PDIP.

“Model pertemanan ini bisa saja terbawa hingga Pilgub ini. Sehingga kalau pada akhirnya PDIP bisa menarik Hanura dan PKB ke dalam poros PDIP, maka akan menjadi sengit dan mengejutkan,” ujarnya.

Sebaliknya, lanjut Mikhael, jika PDIP hanya menggaet PKB, sedangkan Hanura bersama PKPI berada di poros Demokrat, maka peta yang ada saat ini tidak akan berubah hingga pilgub.

“Jika melihat peta koalisi yang sudah ada, maka menurut saya, bisa saja PDIP akan meluncurkan nama Lucia Adinda Dua NUrak atau Kristo Blasin sebagai calon gubernur,” katanya.

Ini berarti peluang calon wakilnya diambil dari Sumba atau Timor. Karena dengan sudah diputuskannya calon koalisi Nasdem-Golkar, PDIP akan berhitung.

Mereka akan lebih memilih memunculkan figur seperti Kristo Blasin atau Lucia Adinda Dua Nurak untuk bertarung karena hitungan politik elektoral di NTT masih sangat kental dengan kalkulasi-kalkulasi sosiologis dan variabel-variabel kultural dan alasan geopolitik.

Partai-partai juga katanya umumnya memutuskan figur berbasiskan kalkulasi-kalkulasi tersebut sehingga PDIP, akan cermat berhitung setelah melihat figur dan komposisi calon dari partai lain yang sudah ada.

Sedangkan Partai Demokrat, kata dia, sangat berpotensi juga menggandeng Hanura dan PKPI untuk mengusung Beni Kabur Harman-Benny Litelnoni.

“Tapi itu belum final menurut saya. Politik itu tidak hanya soal panggung depan tetapi juga soal kompromi dan juga investasi kekerabatan di panggung belakang. Apa yang dibaca di depan, bisa saja berubah karena kompromi-kompromi di belakang layar,” katanya.

Saat ini katanya sudah ada dua calon gubernur dan wakil gubernur sudah berpasangan, yakni Esthon Foenay-Christian Rotok dari koalisi Partai Gerindra, PKS, PAN dan PPP, Perindo dengan total 15 kursi serta Jacky Ully-Melky Lakalena dari koalisi Partai NasDem dan Partai Golkar dengan total 19 kursi.

Sumber : Antara