Pakar: Tak Perlu Gembira Berlebihan Atas Pertemuan Trump dan Kim Jong Un

Jakarta – Pakar Hubungan Internasional Universitas Gajahmada, Yogyakarta, Nur Rachmat Yuliantoro menilai pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tidak akan segera membawa hasil baik bagi Semenanjung Korea.

“Tidak perlu bergembira berlebihan seolah-olah perdamaian dan keamanan kawasan itu segera menuju ke arah positif,” kata Rachmat saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa siang.

Menurut dia, masyarakat internasional masih harus menunggu apakah Presiden Trump dan Kim akan betul-betul mengusahakan langkah perdamaian atau hanya retorika.

Dalam pembicaraan tersebut, tidak lepas peran Korea Selatan melalui Presiden Moon Jae-in, yang menjadi sosok paling berperan dalam mendorong saudara Utara-nya hadir dalam meja pembicaraan.

“Hanya Presiden Moon jelas terlihat mendukung dan menghargai sikap lunak Kim, sementara negara lain mungkin tidak seperti itu,” kata Rachmat.

Yang mungkin, katanya melanjutkan, adalah bahwa pertemuan tersebut tidak dengan sendirinya menghilangkan tekanan dan desakan dari internasional agar Korea Utara melucuti senjata nuklirnya.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengharapkan pertemuan tingkat tinggi Presiden Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, berjalan sukses dan membuka lembaran baru bagi hubungan baru antara Korea Selatan, Korut dan AS.

“Saya berharap pertemuan Trump dan Kim akan membuka era baru denuklirisasi, perdamaian dan hubungan baru antara AS, Korsel dan Korut,” demikian dilansir saluran TV Channel News Asia, Selasa.

Presiden Moon menyaksikan langsung pertemuan Trump dan Kim di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, melalui televisi didampingi pejabat Korsel lainnya.

Di Singapura itu, Presiden Trump dan Kim Jong-un menandatangani naskah menyeluruh menyusul pertemuan bersejarah, yang mengejar pelucutan nuklir di semenanjung Korea.

Awak media dalam kesempatan tersebut belum mengetahui isi naskah tersebut.

Sumber: Antara