Ketum Al Maun: Tuduhan Sirajudin Wahab Kepada Ketum Golkar Mengada-Ngada

Jakarta,- Terkait statemen kader muda Golkar Sirajudin wahab yang mengatakan prilaku kepemimpinan Ketum Golkar sekarang ke kanak- Kanakan, diskriminatif dan otoriter.

Hal ini di tanggapi oleh Ketum Al Maun M. Rafik Alamsyah bahwa tuduhan Sirajudin Wahab mengada-ngada dan tidak berdasarkan kondisi real di lapangan.

Rafik menjelaskan Kondisi sekarang yang dilakukan DPP Golkar adalah kebijakan reaktif melawan sekelompok elite Golkar yang tidak punya etika dan nafsu syahwat mengambil alih kepemimpinan di golkar di saat momen strategis kebijakan penentuan positioning kader Golkar di legislatif dan eksekutif.

Dan beliau bagian dari kelompok yang tidak beretika tersebut.

“Wajar Ketum Golkar Airlangga dan jajarannya melakukan aksi penyelamatan Partai ditambah dibelakang kelompok tersebut diboncengi kelompok lain yang tidak mau golkar besar di bawah kepemimpinan Airlangga hartarto.” Ujar Rafik

Ini mengancam kepentingan mereka di pilkada serentak dan kepentingan di tahun 2024, Apalagi yang mereka mau mainkan Perihal pleno? Barusan beberapa hari ini Ketum Airlangga melaksanakan pleno DPP sesuai korbid masing masing.

Rafik juga menjelaskan Perihal munas tentu setelah rapat pleno perkorbid selesai melakukan laporan baru dilaksanakan Pleno DPP Partai Golkar secara keseluruhan, Cuma karena nafsu syahwat mau mengambil alih Golkar supaya bisa mengatur posisi di kabinet dan pemerintah makanya mereka ngotot terus melakukan serangan kepada Ketum golkar.

“Beliau bilang DPP Golkar Ketum Airlangga sekarang punya kepentingan kabinet justru itu kelakuan mereka , mau kudeta serta ambil alih dan memaksakan Munas sebelum pelantikan agar mereka bisa mengambil alih dan menyalurkan kepentingan mereka bukan kepentingan strategis secara kolektif Partai Golkar buat ke depan.”Ungkap M. Rafik Perkasa Alamsyah Ketum Almaun / Waketum PP Ampg.

Semua tuduhan yang di arahkan Sirajudin justru itu membuka kelakuan mereka sendiri,
daripada dituduh duluan mereka nuduh orang lain dulu agar tidak malu.

“Sirajudin ketika gagal caleg tentu berharap mendapatkan posisi di pemerintah dalam momen pasca pilpres ini, Wajar dia teriak – teriak Cuma teriakan kepentingan pragmatis bukan ideologis dan strategis,” Pungkas Rafik (Red)